MARI BERBAGI, MEMBUAT HIDUP LEBIH BERARTI
>
Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan

31 Desember 2013

Puisi: KALAU MATAHARI KEMBALI

Kalau matahari esok kembali,
Apa yang berbeda?
Masih jinggakah ia?
Kenapa kita sambut lebih gembira?!
Karena kelaziman yang berulang?!
Bilangan waktu jadi sempurna,
sampai diujung dan kita bisa mulai lagi dari pertama?!












Atau ini semacam doa?
Agar esok lebih ceria,
lebih banyak harapan,
lebih banyak keinginan,
yang bisa kita raih dan wujudkan?!

Tapi coba juga mengkalkulasi:
tentang saat yang tersisa,
tentang langkah yang makin jauh,
tentang peluang yang terus berkurang!

Telah jauh waktu berlalu!
Saat kita berlari dipelatar,
berganti permainan tiap sebentar,
terus tertawa tak pernah gusar

Saat-saat kenes yang terasa singkat!
Ketika degup jantung mencekat,
diantara nafsu, tekad, dan hasrat,
membara membakar jadi semangat,
kegilaan yang membikin nekat,
tapi semua, sungguh t’lah lewat…
















Apapun,
kalau matahari esok kembali,
meski langit (mungkin masih) murung,
meski kerakusan (mungkin masih) kuat menggelantung,
meski kepongahan (mungkin masih) tegak membusung,
Kuharap bisa (sedikit) beruntung.

Tak banyak sungguh yang kupinta.
Cuma agar bahagia tak terus sembunyi,
hingga tak (lagi) sulit dicari.
Cuma agar Kau beri aku (terus) nyali dan energi,
tuk ikut warnai dunia,
tuk biarkan damai jadi nafas semesta…

Depok dini hari di 27 Desember 2009

Diposting oleh Wahidah R Bulan
resolusi 2014, muhasabah, tahun baru

19 April 2010

Puisi: KU BISA










Kenapa takut hadapi hari?
Hadapi malang dan ketak-pastian?
Ia cuma siklus yang berputar
Bukan keabadian
Bukan akhir
Akan ada tawa setelah tangis
Ada senyum setelah meringis

Jadi jangan buat murung kangkangi hati
Beri dadamu dan menyalaklah dengan berani:
Enyah kau gundah dan bawa serta luka!
Ku ingin bahagia dan bisa tertawa
Menatap indahnya petang
Mengulum senyum,
penuh terkembang

Jangan ada lagi kelabu melintas dihela nafas
mengoyak hari yang berjalan lambat,
menikam asa,
pupus tak bersisa

Enyah kau gundah dan biarku gembira
Enyah kau, biar hariku kembali cerah
Enyah kau, biar kulawan dengan darah
dengan semua yang kupunya



Enyah kau,
ku tahu aku bisa…

Depok, Juli 2009

Puisi: PAK TANI


"Sawah itu tidak lagi menjadi milik mereka. Sebagian menjadi kuli ditanah milik sendiri, yang lain benar-benar menjadi kuli sejati... Tidak mungkin berharap kesejahteraan. Karena bertani tak lebih dari sekedar menyambung kehidupan...."





Tahu bagaimana mereka bekerja?
Mengumpul asa
dari bulir padi yang kecil tak diperhitungkan,
bak atom,
bak ketiadaan
Sedikit-sedikit hingga jadi bukit
hingga cukup untuk anak bini,
untuk hidup layak tak mesti berlebih

Kulihat mereka berjajar dipesawahan
kulit legam terbakar siang
tak beralas kaki tampak buruk tak berketentuan
tak kan dilirik sebagai pangeran impian

Keringat mereka keluar berebutan
dari rongga kesusahan
bersenyawa menjadi ruh kehidupan
hari-hari mereka yang muram tak berpengharapan
Bukan sepekan, bukan sebulan,
Tapi sepanjang peradaban

Kita bicarakan mereka tak berkesudahan
Ditempat mentereng lagi hotel berbintang
Di forum-forum terhormat dengan para pejabat,
di tempat berkumpul para cerdik-cendekia,
orang-orang berpengaruh dan penentu dunia

Tapi kita pakai logika dan otak penjajah
Hingga miskin terus saja jadi masalah,
Tak pernah selesai atau memang tak ingin diselesaikan?
Biar kita bisa kembali berkumpul dan berbincang
Biar lebih banyak lagi uang dan kehormatan,
Biar makin kaya teori kita yang tak pernah terpuaskan
atau biar terus bertambah gelar ilmiah yang kita hasilkan?

Padahal yang mereka perlu cuma kerelaan
agar keserakahan segera kita tinggalkan,
Kitalah pencipta kemalangan yang mereka deritakan
Kemiskinan adalah buah ketamakan!

Jadi yang mereka perlu cuma satu:
agar kita mau berbagi,
agar kita mau berhenti,
mau kenyang,
mau tak terus menumpuk,
mau melupakan keperluan anak cucu tujuh turunan,
yang selalu kita jadikan alasan
mau mengurangi ambisi dan kepongahan,
mau meraba sakit yang mereka rasakan

jadi yang mereka perlu cuma keikhlasan,
cuma hati dan nurani yang tak menyimpan
kepura-puraan apalagi kebusukan
cuma itu…


@ Kebumen, 16 Ags 2009

Puisi: BUKAN ISTANA (1)

Bukan istana,
bukan kemewahan tiada tara,
bukan jadi pejabat atau orang kaya,
jadi caleg juga bukan,
wong jumlahnya sudah ribuan.

Cuma sederhana:
Biar bisa makan layaknya manusia
Nggak perlu cari di tong sampah Den Juragan,
atau makan roti yang sudah jamuran,
kadaluarsa itu sih masih lumayan,
wong sisanya si bleki juga jadi rebutan.
Tapi mosok harus mulung terus sampe mati!

Cuma biar sedikit lebih pintar:
Biar tidak terus jadi korban orang gedean
Dikibuli ribuan kali
Katanya gratis taunya beli,
katanya boleh taunya dimaki

Cuma ingin sedikit bahagia:
Biar si mbarep tak perlu mbecak seperti bapaknya,
umurnya 40 tulangnya remuk semua,
dikejar tibum saban hari,
lari seperti pencuri padahal cuma cari sesuap nasi

Biar si Pinah bisa terus sekolah diyayasan,
gurunya bilang dia pintar,
kalau belajar terus bisa jadi bu guru
Oala, senengnya anakku jadi guru…

Cuma ingin sedikit pasti:
Bisa tau besok makan apa,
Kalo digusur lagi mau kemana,
Kalo bengeknya siragil kambuh mau bagaimana.
Ke puskesmas juga kan harus bayar
Gratis itu cuma ada waktu kampanye,
cuma ditivi dan koran-koran

cuma itu,
bukan istana,
bukan apa-apa!
Mosok nggak bisa?
Sayakan sudah sering ikut coblosan
Disuruh ganti contreng juga saya kerjakan

Jadi piye Pak…, Bu…,
Habis pemilu semua bisa diubahkan?
Saya bisa jadi manusia sungguhankan?

Depok, 5 April 2009.

11 Desember 2008

Puisi: HENDAK KEMANA ENCIK

Hendak kemana, Encik?
Tergesa dan seolah tak akan berhenti
Mengapa tak sejenak menahan kendali
Apa kau tahu seberapa panjang langkahmu?
Terus berlari berburu waktu
Apa hari mu selalukan sama?
Siapa bilang semua bisa diduga



Lihat kemarin, kini, dan esokmu
Ini bukan siklus yang berputar melingkar
Karena kemarinmu bukan kinimu,
Karena kinimu bukan esokmu,
dan karena awalmu kan berujung akhir

Jadi jangan terus tergesa dan menggesa
semakin cepat kau berlari,
semakin dekat kau sampai ditepi
semakin kuat kau melintas
semakin dekat kau pada batas
Jangan biarkan semangatmu menggilas
Apalagi jadi budak hasratmu yang buas

Hendak kemana, Encik?
Tidakkah suatu ketika kau akan berhenti?
Entah dimana dan bagaimana
Entah kau suka dan menerima
Entah kau siap atau terpaksa
Entah kau sudah tua atau masih sangat belia



Jadi apa sudah kau buat semua genap?
Bukankah tugasmu membuat lengkap?
Telah Dia beri kau semua harap
Kenikmatan dunia yang tak habis hingga kau megap-megap

Semua bukan cuma angin yang berlalu bersama sepi
yang tak bernama dan hampa arti
tapi hutang budimu pada pemilik bumi
Pemilik sejati yang tak perlu kata permisi

Jadi hendak kemana, Encik?
Mengapa tak sejenak bertafakur
Boleh jadi kau lupa bersyukur
Lama-lama jadi dekat pada kufur
Marilah sebentar diam tersungkur

Marilah membaca dengan nurani
Menyimak tingkah polah yang sarat ambisi
Tidakkah Dia punya hak atas diri
yang diciptaNya dari setetes mani

Jadi, mau sejenak berhenti, Encik?


@wrb, Nov-Des 2008,
terinspirasi dari sebuah ayat yang sangat inspiratif:
fa aina tadzhabun: maka hendak kemanakah kamu pergi.


muhasabah

10 November 2008

Puisi: LENGANG

Daun-daun itu kembali luruh:
merah, kuning, kelabu, dan putih
berserak, mewarnai the Sir Roland Building
membuat pohon “Eropa”,
makin tinggi dan langsing

Ini sore memang bukan sore kemarin
Tetapi apa yang berbeda?
Lengang tetap bertahan ditempatnya
Disudut hati yang tak jua terumuskan dengan pasti

Kenapa dia terus datang menyelinap?
Menyapa ditengah penat dan gaduh
Kenapa ia terus datang menyeruak?
Membuat sendu, senja tak berwarna

Datang dari mana dan hendak kemana?
Kenapa terus menyergap mengganggu?
Andai aku tahu jawabannya
Biar hening tak merusak hari

Angin bertambah dingin
Berhembus menusuk angan dan harapan
Adapun sepi, tak jua hendak pergi
Bersembunyi, digetirnya penantian
Berdiam, dirindu yang tertahan

Canberra, 20 Mei 2008

08 November 2008

Puisi: INI RINDU

Ini rindu kenapa hadir?
Karena bayangmu hilang dari pandang?
Atau karena harap akanmu jauh terbang?
Berkelindan ia disepi hari
Menyeruak ia penuhi rongga dada
Menari ia dihati pilu

Kucari rapuh jiwamu disudut penantian
Kucari senyum kakumu diramai gurauan
Kucari kau diselaksa kesempatan
Tak ada…

Ini rindu kenapa datang?
membuat sendu
mengharu-biru
membuat tak menentu

Ini rindu kenapa disini?
Apa juga ada padamu?
atau milikku sendiri dan kau tak peduli?

Ini rindu menenggelamkanku,
dalam sakit dan luka tak terperi
dalam galau dan resah yang menyelimuti hari
Juga dalam pertanyaan panjang tak berjawab:
Boleh aku mengharapkanmu?

@wrb, Depok, 29 Oktober 2008

Puisi: TOWARD TWILIGHT

TOWARD TWILIGHT

How much have we taken away from you?
From your glow which never end to shine
Light up spirit and soul of those who look for the truth
Going out from ignorance and hardheadedness

I am embarrassed to search for the answer
Because I only leave weariness for you
For your love which is endless like the ocean
Never drying out until the twilight comes

You have made the darkness leave instantly
Leaving me perplexed in ignorance
You said: don’t leave your inner self and integrity
Make those as a lantern for your life

Could our love repay yours?
Your weariness that hangs in your eyes
That’s all we have
Our most valuable possession
to please you

Oh, that’s so much we have taken from you
And please allow us to take it, more and more…
To absorb your unlimited wisdom
To submerge your spirit that diminishes


KEPADA SENJA

Berapa banyak sudah kami mengambil?
Dari cahayamu yang tak henti berpendar
Terangi sukma dan jiwa yang mencari
Keluar dari ketidak-tahuan dan kedegilan

Malu aku mencari jawabnya
Karena hanya ku sisakan letih untukmu
Untuk cintamu yang luas bak samudera
Yang tak jua habis hingga hari senja

Telah kau buat pekat pergi tergesa
Meninggalkan ku yang tergugu dalam tak tahu
Katamu, jangan buang nurani dan kejujuran
Biarkan ia jadi lentera kehidupan

Apa cinta ini bisa membayar?
Letihmu yang menggayut dikelopak mata
cuma ini yang kami punya
yang paling berharga dan yang kuharap kau suka

Alangkah banyak yang telah kami ambil
dan mohon biarkan kami terus mengambil
menyerap kearifanmu yang tak berbilang
menyelami semangat mu yang tak pernah padam

Happy Anniversary, 80th Pak Soelaeman Soemardi,
Founder FISIP UI
Depok, November 2008.

Sosiologi, Soelaeman Soemardi, FISIP UI,